Perjalanan Setelah Menikah


Tenang, tenang.. ini bukan ngomongin perjalanan hidup yang berliku2 dan berat, tapi tentang perjalanan dari rumah ke kantor yang udah berubah setelah menikah (Fiuh..)

Jadi, tadinya sebelum menikah, jarak antara kantor sama rumah itu deket banget, jalan kaki aja bisa sampe kantor. Lalu setelah menikah dan tinggal di tempat suami, otomatis perjalanan ke kantor jadi berubah dong. Yang biasanya 15 menit jalan kaki sampe, sekarang jadi 2 jam perjalanan (and if I’m lucky, bisa 1,5 jam aja udah sampe). Nah, kurang lebih seperti berikut deskripsinya:

Jam 6 pagi bangun (seringnya jam 6 masih kriyep2, jam setengah 7 officially menarik diri dari kasur)

Jam 8 berangkat dari rumah, dianterin suami ke stasiun. Kalau jalanan bersahabat, setengah jam naik motor sampe stasiun, kalo nggak, yahh siap2 deh

Kereta berangkat dari Tangerang jam 8.45 atau 9.15. lama perjalanan ke stasiun tujuan = 15 menit

Jam 9 atau setengah 10 turun dari kereta di stasiun tujuan, dan butuh setengah jam sampe 45 menit lagi untuk sampe kantor (ini waktu keseluruhan yg ditempuh dengan naik angkot dan jalan kaki, karena kantor nggak dilewatin sama angkot)

jam 10 (kurang atau lebih) sampelah di kantor tercinta.

Begitu juga yang ditempuh kalau mau pulang dari kantor. Kurang lebih 2 jam di jalan, baru sampe ke rumah.

Jadi apa maksudnya? Maksudnya mau cerita kalau hidup itu berjalan setiap harinya dengan dinamikanya yang berubah-ubah sesuai maunya Tuhan. Bisa aja hari ini sampe kantor lebih cepat, bisa juga besok sampe kantornya telat, padahal berangkat di jam yang sama dan memakai alat transportasi yang sama. Dan di setiap harinya, selama perjalanan jauh itu, ada aja kejutan2 kecil dari Tuhan yang membuat hari2 ini nggak membosankan. Entah itu ngeliat orang pake tas atau sepatu lucu di kereta, atau ketemu orang2 aneh di angkot, atau bahkan kejadian2 kebakaran dan kemacetan dan kecelakaan di jalan dan macem2nya lagi.

Dari semuanya itu yang paling berasa perubahannya setelah menikah ini adalah aku udah menjadi orang yang lebih berani ambil resiko. Kalo dulu cuma berani naik turun taksi atau minta anter jemput sana sini, sekarang udah berani naik turun kereta dan nyari2 jalan naik ojek / google map. Dulu masih bisa bergantung sama orangtua atau abang2 brother untuk nganter2, tapi sekarang dengan udah punya suami bukan berarti dia yang anter2 aku kesana kemari, karena dia toh punya kewajiban yang lain juga jadi aku malah harus belajar lebih mandiri. Aku juga belajar gimana caranya ambil short cut untuk sampe ke tempat tujuan dengan tepat waktu dan biaya yang seminimal mungkin, tanpa mengesampingkan keamanan dan kenyamanan yang selama ini selalu diutamakan.

Satu lagi, nikmati saja apa yang harus kamu lalui hari ini. Kalau aku harus berangkat dan pulang kerja dengan cara seperti ini sekarang, ya nikmati saja. Suatu saat nanti pasti ada masanya aku nggak melalui jalan ini lagi. Bisa2 kantornya pindah ke deket rumah, jadi nggak naik kereta lagi. Atau udah punya kendaraan sendiri jadi nggak naik angkot lagi. Atau bahkan berkantor di rumah sendiri sehingga nggak harus kemana2 tiap hari. Kan nggak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan? Percaya saja, Tuhan menempatkanmu di waktu dan tempat yang sekarang tidak dengan kebetulan, tapi pasti ada maksudNya. Jadi selama kamu masih ditempatkan disini, ya nikmati saja yah. Dan jangan lupa bersyukur juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s